Sukses Jadi Tuan Rumah Undian Simpeda 2026, Bank Bengkulu Dorong Penguatan Likuiditas dan Ekonomi Daerah
Bengkulu, Progresiflines.com — PT Bank Pembangunan Daerah Bengkulu (Bank Bengkulu) sukses menyelenggarakan rangkaian perhelatan akbar Undian Nasional Tabungan Simpeda Periode I Tahun XXXVII-2026. Acara berskala nasional ini dipadukan dengan Seminar Nasional Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (ASBANDA) yang berlangsung di Hotel Mercure Bengkulu pada Jumat (21/8/2026).
Momentum berharga ini menjadi wadah krusial bagi 27 Bank Pembangunan Daerah (BPD) se-Indonesia untuk merumuskan rekomendasi strategis bagi pemerintah pusat. Tujuannya adalah memperkuat peran bank daerah sebagai motor utama penggerak roda ekonomi di daerah masing-masing.
Direktur Utama Bank Bengkulu, Iswahyudi, menegaskan bahwa kesempatan menjadi tuan rumah merupakan momen langka yang hanya terjadi sekitar 12 tahun sekali bagi setiap BPD. Oleh karena itu, Bank Bengkulu mengoptimalkan ajang ini bukan sekadar sebagai seremoni perbankan, melainkan juga sarana strategis untuk mempromosikan potensi investasi, budaya, dan pariwisata Provinsi Bengkulu ke tingkat nasional.
Seminar nasional kali ini menghadirkan Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, Fauzi H. Amro, sebagai pemateri tunggal. Kehadiran regulator legislatif ini dimanfaatkan oleh seluruh direksi BPD untuk menyalurkan pemikiran dan aspirasi langsung terkait penguatan kebijakan sektor keuangan daerah.
"Kami fokus pada satu pemateri agar pembahasan lebih tajam dan mendalam. Harapannya, seminar ini menghasilkan rekomendasi konkret yang dapat diberikan kepada pemerintah pusat demi kemajuan pembangunan daerah melalui optimalisasi bank daerah," ujar Iswahyudi.
Selain memperkuat aspek kelembagaan, Bank Bengkulu juga berkomitmen memperluas penetrasi produk Tabungan Simpeda sebagai produk sirkulasi utama BPD. Iswahyudi mendorong akselerasi digitalisasi dan perluasan sosialisasi lewat media penyiaran regional seperti Bengkulu Express TV dan Rakyat Bengkulu TV. Dalam jangka panjang, targetnya adalah menembus siaran televisi nasional agar literasi menabung masyarakat semakin kuat.
Kemeriahan rangkaian acara ini kemudian ditutup dengan panggung hiburan rakyat yang menghadirkan penampilan grup band legendaris, Ungu.
Di sisi lain, Ketua Umum ASBANDA, Agus H. Widodo, menyoroti tantangan makro yang tengah dihadapi industri BPD saat ini, terutama terkait pengelolaan likuiditas di tengah perubahan regulasi keuangan negara.
Meskipun Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI-Rate di level 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Agustus 2026 dan industri perbankan nasional dinilai tetap kokoh, Agus mengingatkan adanya ketimpangan distribusi likuiditas. Karakteristik BPD diakuinya sangat rentan terhadap dinamika siklus fiskal daerah, seperti pola transfer dana pusat ke daerah, belanja APBD, penggajian ASN, serta transaksi keuangan BUMD dan BLUD.
"Perubahan desain fiskal pusat dan daerah serta pergeseran mekanisme penyaluran dana pemerintah berdampak langsung pada struktur pendanaan kami. Likuiditas BPD bukan sekadar masalah internal bank, melainkan cerminan dari kapasitas pembiayaan pembangunan daerah itu sendiri," tegas Agus.
Berdasarkan data kinerja hingga Juni 2026, kontribusi BPD terhadap perekonomian nasional sangat signifikan. Total aset dari 27 BPD di Indonesia telah menembus angka Rp1.043 triliun, dengan akumulasi penyaluran kredit mencapai Rp673 triliun dan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp770 triliun. Walaupun secara umum BPD berada dalam kategori sehat hingga sangat sehat, pertumbuhan fungsi intermediasi ini wajib diimbangi oleh ketersediaan dana murah agar tidak memicu pembengkakan biaya dana (cost of fund).
ASBANDA menggarisbawahi bahwa efisiensi administratif yang diterapkan pemerintah pusat dalam pengelolaan dana publik tidak boleh mengorbankan ekosistem ekonomi daerah. Kebijakan sentralisasi sistem pembayaran dikhawatirkan berpotensi menarik likuiditas dari daerah ke pusat. Kondisi ini pada akhirnya dapat melemahkan kapasitas BPD dalam membiayai sektor-sektor produktif lokal seperti UMKM, infrastruktur, pangan, perumahan, hingga pendidikan.
"Kami tidak melihat ini sebagai kompetisi antara BPD melawan bank umum swasta atau BUMN lain. BPD adalah lingkaran strategis ekonomi daerah. Ketika fondasi ekonomi daerah diperkuat lewat BPD yang sehat, maka ketahanan ekonomi nasional secara otomatis akan ikut kokoh," pungkas Agus.(**)
- 1 view
Leave a Reply